Rabu, 25 Februari 2009

Jangan Pernah Mengeluh

Pada saat anda tidak punya uang, lalu banyak tagihan datang ke rumah, dan pekerjaan sedang menumpuk, apa yang akan anda lakukan? Biasanya orang akan mengeluh. Memang wajar bila seseorang mengeluh karena stress berlebih. Jika orang tsb sudah mengeluh, dia akan melakukan sebuah protes langsung maupun tidak langsung pada Tuhannya, seperti,”Kenapa harus diberi cobaan seberat ini?” atau “Aku mau mati saja”. Tidak mesti seperti ini, karena setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mencurahkan masalahnya kepada Tuhan. Tetapi pada intinya sama, yaitu menyampaikan permohonan agar lepas dari masalahnya tsb.
Ada sebuah cerita yang mungkin cukup menarik, tetapi harap diingat ini cerita fiksi.
Ada seorang pengusaha yang setiap hari terus memantau perkembangan usahanya lewat indeks harga sahamnya. Hampir 15 jam sehari ia habiskan untuk bekerja, padahal ia bekerja selama seminggu tanpa hari libur. Komunikasi dengan keluarga menjadi agak terbengkalai karena tuntutan pekerjaan. Tetapi itu semua hampir sepadan dengan pendapatan reguler yang ia dapatkan setiap bulannya.
Suatu hari, indeks sahamnya ini merosot tajam hingga 400 %. Alhasil perusahaannya rugi besar. Walaupun dilakukan berbagai usaha untuk mendongkrak kembali indeksnya, tetap saja tidak kembali ke level semula. Karena itu, perusahaannya dinyatakan bangkrut.
Lalu pengusaha ini pulang ke rumahnya menggunakan taksi, karena kebetulan kendaraannya yang biasa sedang diservis di bengkel. Sepanjang perjalanan dia hanya bisa merenungi nasib perusahaannya dan karirnya, dan duduk lesu di bangku belakang. Lalu dia mampir ke warung di pinggir jalan untuk membeli air minum, untuk sedikit melegakan hatinya. Ia tidak menyadari bahwa perhentiannya untuk membeli air minum ini akan mengubah hidupnya.
Setelah membeli air minum, ia kembali ke dalam taksi dan mendapati sopir taksi tsb sedang melihat berbagai surat tagihan yang ditujukan pada sopir taksi. Di surat-surat itu ada tagihan listrik, telepon, rumah, serta biaya sekolah anaknya, yang kalau dijumlahkan tunggakannya mencapai 10 juta-an. Sopir taksi itu berkata, ”Ya beginilah kehidupan rakyat kecil pak. Gaji nggak seberapa tapi pengeluaran tambah terus. Mungkin memang sudah jatah saya untuk hidup seperti ini. Berbeda dengan Bapak.”. Mendengar hal itu, pengusaha ini pun langsung terhenyak. Di batinnya pengusaha itu berkata, ”Benar juga kata sopir taksi itu. Aku memang pengecut. Baru bangkrut saja sudah dikira kiamat. Padahal banyak yang lebih melarat dibanding aku. Apa hakku untuk protes pada Tuhan?”
Setelah kejadian itu, pengusaha ini mulai merintis usaha kecil-kecilan di rumahnya. Dengan bangkrutnya perusahaan, ia dapat mendekatkan diri pada keluarganya dan merintis usahanya dari nol lagi. Waktu terus berlalu, dan karena tidak memiliki hutang dan ekonominya relatif lancar, ia berani untuk menjajal usaha-usaha baru yang belum pernah dilakukannya. Hasilnya sukses besar. Ia pun menjadi orang kaya raya lagi, meskipun tidak sesukses perusahaannya yang dulu. Tetapi, dia tetap mensyukuri apa yang telah dimilikinya meskipun nantinya usaha barunya ini juga mendatangkan masalah baru yang lebih berat.
Apa inti dari cerita ini? Ini adalah pengembangan dari pepatah ‘Kegagalan adalah awal dari kesuksesan’. Tanpa kegagalan, orang tidak akan pernah sukses. Batu penghalang dan rintangan adalah suatu bentuk latihan dan ujian, yang akan digunakan untuk mengetes apakah anda berhak untuk mencapai kesuksesan. Thomas Alva Edison melakukan 600 eksperimen atau lebih hanya untuk mencari filamen yang tepat untuk membuat sebuah bola lampu sederhana. Jika anda ingin membuat sebuah roket, mungkin saja anda melakukan eksperimen hingga 1000 kali sampai akhirnya terbuat sebuah roket yang sempurna.
Tetaplah bersemangat dalam menggapai tujuan hidup anda, walau dalam keadaan apapun. Karena seburuk apapun keadaan anda, pasti ada seseorang yang lebih buruk keadaannya.

Jumat, 20 Februari 2009

Mimpi : Bermanfaat atau Tidak?

Kita tentunya sering sekali memimpikan sesuatu, entah itu baik atau buruk. Pikiran kita biasanya malah langsung otomatis membayangkan sesuatu jika kita melihat sesuatu yang kita inginkan. Bahkan hampir setiap kali kita tertidur, kita akan memimpikan sesuatu. Mimpi ini tidak mungkin terhindarkan dari siapapun.
Melalui mimpi ini, orang akan membuat suatu imajinasi dimana dia memiliki sesuatu atau dapat melakukan sesuatu. Karena itu, mimpi dapat menjadi tempat ‘pelampiasan’, dimana setiap orang bisa melepaskan stress mereka dan membayangkan diri mereka dalam kondisi yang sangat menyenangkan. Hal-hal yang dirasa tidak mungkin terjadi bisa terjadi di mimpi.
Lalu apa sisi positif dan negatifnya? Sebenarnya ini tergantung dari si pemimpi. Bermimpi bisa menjadi sangat bermanfaat jika pemimpi MAU meraih mimpinya. Bisa diambil contoh seseorang dari Jerman. Sejak kekalahan Jerman di Perang Dunia I, orang ini mempunyai mimpi untuk mengembalikan kekuasaan Jerman, dan menaklukkan Eropa dan dunia nantinya. Ideologi-nya yang sangat khas dihormati oleh seluruh pasukan Jerman. Dia berhasil memulihkan kekuatan Jerman dan menghilangkan pengaruh-pengaruh dunia Barat. Bahkan dalam kepemimpinannya Jerman dapat menguasai sebagian besar Eropa sebelum dikalahkan Sekutu nantinya. Tentunya anda tahu siapa orang ini. Dari sebuah mimpi yang sulit sekali untuk diraih, dapat terjadi sebuah peristiwa yang dapat mengubah sejarah dunia untuk selama-lamanya. Dia adalah Adolf Hitler.
Dari kisah singkat Hitler ini, dapat disimpulkan beberapa faktor yang menentukan baik tidaknya mimpi anda:
1. Proses perwujudan mimpi
Dalam mewujudkan mimpi, ada orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Inilah yang seharusnya dipertimbangkan sebelum memulai meraihnya. Apakah yang kita lakukan ini merugikan orang lain? Atau malah akan lebih merugikan kita sendiri daripada menguntungkan? Dalam mewujudkan mimpi, anda memang harus memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan yang ada, tetapi jika risiko yang harus diambil tidak sebanding dengan yang akan anda dapatkan lebih baik cari jalan lain. Toh jalan menuju Roma tidak hanya satu.
2. Tingkatan mimpi
Jika kita bermimpi tentang memiliki uang, tentunya kita akan memimpikan kita memiliki miliaran atau triliunan rupiah, tidak hanya ratusan ribu saja. Inilah yang menyebabkan banyak orang tidak dapat mengembangkan usahanya, karena target yang dipatok terlalu rendah, terlalu realistis. Anda memang tidak mungkin bisa menjadi penguasa seluruh alam semesta, tetapi anda dapat menjadi seorang pemimpin kaliber internasional. Raihlah target tersebut walaupun kesempatannya hanya 0,1 %.
3. Kekuatan mental
Usaha anda, kalau tidak dibekali dengan kesungguhan hati dan kekuatan mental yang cukup, pasti akan mandek di tengah jalan. Ini mutlak harus dimiliki oleh semua orang. Tanpa kekuatan mental, anda dapat terjerumus ke dalam lubang keterpurukan. Karena itu, pasanglah target yang benar-benar sesuai dengan hati anda. Setelah itu, terus impikan hal tsb pada saat anda berusaha meraihnya. Ini dapat membantu memperkuat mental anda, karena ini akan menjadi tujuan akhir dari usaha anda.
Adalah salah jika kita tidak berusaha untuk meraih sebuah mimpi. Tetapi ada juga beberapa mimpi yang lebih baik tidak terwujud. Contohnya, ada sebuah pekerja yang berdoa dalam ibadahnya (diambil dari sebuah Powerpoint SlideShow):
Berikanlah aku kesabaran dalam menghadapi bosku yang mudah marah.
Berikanlah aku pemahaman untuk mengerti alasan kolotnya bosku.
Tetapi Tuhan, jangan beri aku kekuatan.
Karena jika Engkau beri aku kekuatan, akan kuhancurkan kepalanya.
Mimpi seperti ini ditimbulkan karena rasa dendam atau sakit hati pada seseorang. Karena itu biasanya yang akan diharapkan adalah sesuatu yang buruk bagi orang tsb. Dalam hal ini anda bebas untuk memimpikan hal-hal aneh pada orang lain, yang penting mimpi itu tetap tinggal di hati anda, dan tidak dimunculkan dalam bentuk perbuatan yang riil. Jika bermimpi membuat anda tenang, silakan impikan apapun, selama mimpi itu tidak menguasai anda.
“Jika anda memimpikan sesuatu, anda sedang membuat draft kontrak dengan Tuhan.
Jika anda menginginkan sesuatu, anda sedang diberi klausul khusus dari Tuhan.
Jika anda mengusahakan sesuatu, Tuhan sudah menandatangani kontrak itu.”

Minggu, 15 Februari 2009

To Counter, To Retaliate, or Preemptive

Baru-baru ini saya mendapat kritik dari seorang teman tentang tema blog ini yang selalu berhubungan dengan komputer. Karena itu di sini saya coba untuk sedikit beralih ‘haluan’ ke istilah-istilah lain.
Dalam peperangan, sering dikenal istilah “Counter Attack”, yang berarti langsung menyerang balik setelah kita diserang. “Retaliate” berarti membalas serangan yang pernah ditujukan pada kita. “Preemptive Strike” berarti menyerang lawan sebelum lawan menyerang kita. Lewat pengertian-pengertian ini, kita dapat mengetahui jenis serangan-serangan ini lewat waktu penyerangannya.
Counter Attack berarti langsung menyerang lawan sesudah diserang. Pada saat dilakukan Counter Attack, lawan masih mengalami kerusakan dan sedang memulihkan kekuatannya. Karena itu, serangan ini sangat efektif jika dapat dilaksanakan, mengingat keadaan lawan yang sedang ‘pincang’. Tetapi, dibutuhkan pertahanan yang sangat kuat pada saat menahan serangan lawan di awal peperangan, karena jika kita mengalami kekalahan pada saat diserang pertama kali, tentunya kita tidak bisa maju lagi.
Retaliate sebenarnya memiliki konsep yang hampir sama dengan Counter. Tetapi Retaliate sendiri sebenarnya berarti “membalas” sedang Counter berarti ‘menyerang balik’. Jadi retaliate dapat dianggap sebagai perang jilid 2, sedangkan counter adalah salah satu bagian dari taktik peperangan.
Kalau preemptive strike? Menyerang sebelum diserang. Ini adalah taktik yang digunakan Israel pada Perang Enam Hari melawan negara-negara Arab pada tahun 50-60an. Pada saat itu Israel menyerang Mesir pada saat Mesir menyatakan perang terhadap Israel. Perang yang berlangsung selama enam hari ini akhirnya dimenangkan pihak Israel. Ini juga merupakan taktik yang digunakan negara-negara maju sekarang. Biasanya dalam penggunaan taktik preemptive ini dilakukan beberapa taktik untuk melemahkan lawan, misalnya menggunakan bom dari pesawat, penggunaan bahan kimia, penyanderaan warga sipil, dsb.
Tiga taktik ini sebenarnya menunjukkan itikad atau niat dari pihak yang menyerang. Counter atau retaliate dilakukan dalam rangka pembalasan atau upaya merebut kembali apa yang dijajah oleh lawan. Preemptive dilakukan untuk menghindari peperangan di daerah sendiri, dan dalam waktu yang bersamaan dapat menghancurkan pihak yang berpotensi melakukan penyerangan. Berarti yang dapat disebut sebagai agresor dalam perang adalah yang melakukan preemptive, karena pihak yang melakukan counter atau retaliate hanya merupakan reaksi dan respon terhadap serangan yang diterima sebelumnya. Dapat disimpulkan sendiri siapa yang layak disebut sebagai ‘the bad guys’.
Terus apa yang bisa disimpulkan? Anda tentunya mengerti tentang konsep hukuman atau punishment. Dia akan mendapat ganjaran sesuai apa yang dilakukannya. Anda menyerang, harus siap untuk diserang. Anda diserang, anda mendapat hak untuk melakukan pembalasan.
“Siapa menanam, dia yang mengetam”