Jumat, 06 Februari 2009

Firefox vs IE

Pada saat saya merencanakan artikel ini, saya kesulitan mencari tema yang bisa dijadikan ide pokok. Saya tidak bisa konsentrasi dalam mencari tema ini, karena sehabis menonton beberapa video favorit saya dari YouTube, yang ada di otak sekarang cuma klip video tsb (tidak perlu disebutkan isi videonya). Untuk sedikit memacu otak, saya minimize – maximize Firefox saya berkali-kali, dengan harapan ada inspirasi.
Lalu terlintas sebuah ide: Kenapa Firefox ini tidak dijadikan tema saja? Langsung saja saya buka MS Word lalu mulai mengetik artikel ini.
Anda tahu Mozilla Firefox? Ini adalah salah satu browser yang cukup terkenal di kalangan surfer-surfer internet. Mungkin saja anda membuka blog ini dengan Firefox. Icon rubah berwarna merah dari Firefox ini dapat dipastikan sudah menghiasi setiap warnet di Kota Yogyakarta. Browser Firefox sendiri lebih disukai orang-orang ketimbang browser bawaan dari Windows sendiri, Internet Explorer. Tampilannya yang cukup khas mudah dikenali oleh para surfer.
Mengapa Firefox banyak digunakan oleh warnet, padahal itu untuk tujuan komersial ? Karena Firefox adalah sebuah open source freeware. Freeware ini berarti Firefox dapat digunakan oleh siapa saja tanpa pembayaran dan tanpa registrasi. Open source berarti penggunanya dapat memodifikasi Firefox itu sendiri dengan bebas, dan dapat menyebarkan hasil karyanya tsb tanpa larangan hukum. Ini tentu kontras dengan Internet Explorer / IE, yang hak modifikasinya hanya dipegang oleh pembuatnya (Microsoft) dan hanya tersedia jika anda membeli Windows secara legal.
Konsep open source ini tentu saja membuat para ahli komputer bisa mengkreasi Firefox untuk memenuhi kebutuhan utama mereka. Dengan konsep ini pula, banyak sekali tambahan (add-on) untuk Firefox dalam berbagai hal, misalnya aplikasi tambahan untuk akses ke Facebook, Blogger, dan juga modifikasi theme/penampilan dari Firefox sendiri. Lagi-lagi, ini cukup kontras dengan IE.
Lalu apa maksudnya dengan menuliskan perbandingan Firefox dan IE ini? Misalkan saja anda adalah sebuah browser Firefox. Anda disuruh membuka sebuah situs yang cukup rumit. Karena mungkin anda tidak bisa melakukannya sendiri, pengguna browser akan melakukan debug( pencarian dan pembetulan kesalahan) terhadap anda sendiri dengan mencari titik kesalahan dan sebisa mungkin membetulkannya. Setelah itu, situs rumit yang tadi disebutkan anda coba dibuka lagi. Hasilnya sekarang situs ini terbuka lancar.
Tetapi bagaimana jika anda adalah IE? Anda mencoba membuka situs rumit tadi. Karena anda tidak dapat membukanya, pengguna browser harus melaporkan kesalahan ini kepada Microsoft untuk diatasi. Proses pelaporan ini mengambil waktu beberapa puluh menit, dan bisa menyebabkan terkirimnya data-data pribadi anda ke Microsoft. Pengguna browser juga harus menunggu sampai dikeluarkannya update dari Microsoft untuk membetulkan kesalahan tadi. Belum nanti akan ada proses instalasi yang baru, dan harus me-restart Windows anda. Setelah restart, anda berusaha membuka situs rumit yang tadi, dan ternyata gagal. Pengguna browser tidak bisa melakukan apa-apa selain mengulangi proses yang tadi. Membosankan bukan?
Kalau diumpamakan, Firefox adakah perwujudan hati teman-teman yang selalu terbuka untuk berbagai perbaikan untuk diri anda sendiri. Anda akan menerima dengan senang hati kritik dan saran dari kerabat anda dan lingkungan anda, dan selalu menganggapnya sebagai usaha untuk memperbaiki hidup dan sifat anda. Terakhir, sebagai freeware, anda akan menolong orang lain tanpa meminta imbalan dari orang tersebut. Untung rugi tidak terlalu dipermasalahkan, mungkin saja malah usaha anda semakin berkembang. Lihat saja Mozilla Firefox, walaupun hampir semua aplikasi buatannya gratis, apakah mereka lantas bangkrut? Sekarang, mereka merebut 30 % pasar browser dunia. Bukan cuma itu, versi terbaru Firefox, 3.0, yang belum lama ini diluncurkan memecahkan rekor dunia dalam hal download terbanyak pada waktu 1 bulan.
IE? Anda hanya terbuka pada beberapa orang saja, mungkin keluarga atau kekasih anda, sehingga orang yang dapat mengoreksi kesalahan anda hanya segelintir orang saja. Sebagai hasilnya, perkembangan sosial dan mental anda tidak akan bisa melaju dengan baik. Anda juga menolong orang lain mungkin hanya karena perintah dari orang lain, atau untuk motif komersial yang hanya akan menguntungkan anda.
Pepatah yang mungkin bisa menggambarkan keadaan:
“Hanya orang lain yang bisa melihat ketombe di kepala anda.”

1 komentar:

  1. fiq,,

    ayo kunjungi blog aku yang baru di :

    gunturdp.blogspot.com

    fiq,,
    u cari blogger templates aja di google,, biar tampilan blog u jadi bagus. .

    nyantai ae ga usah mikirin HTML,, langsung copas aja (copy paste). .

    trus promosiin blog u,, misal ndaftar di technorati,, atau cari aja di google,, biar blog u ramai pengunjung. .

    see,, ya
    wassalamualaikum. .
    with all due respect
    guntur.dharma

    BalasHapus