Senin, 02 Februari 2009

Kalah? Tidak Masalah

Beberapa hari yang lalu saya memainkan game komputer Championship Manager, game dimana pemain akan menjadi manajer suatu klub sepakbola di dunia. Saya sudah memainkan game ini sejak saya masih kelas 1 SMP, dan masih terus saya mainkan sampai sekarang karena game ini tidak mengenal kata tamat atau selesai, sehingga pemain bisa meneruskan permainannya sampai berpuluh-puluh tahun (dalam game) lamanya.

Saya memiliki kebiasaan mengurusi klub-klub yang bisa dibilang medioker atau biasa saja, karena tantangan yang akan dihadapi bakal makin berat dibandingkan dengan tim-tim besar yang sudah mapan seperti Real Madrid atau Inter Milan. Dalam hal ini saya mengurusi klub Liga Inggris Bolton Wanderers, klub kuda hitam yang sering merepotkan tim besar lain di Liga Inggris.

Kembali ke beberapa hari yang lalu, tim Bolton saya akan melawan Chelsea, yang notabene merupakan tim kelas dunia yang memiliki pemain bintang dari seluruh dunia. Karena tim saya tidak pernah mengalami kekalahan sejak musim bergulir, saya langsung pe-de saja untuk memasang taktik menyerang. Hasilnya, pada babak pertama Bolton saya unggul 4-1 atas Chelsea. Pada jeda babak pertama, saya memutuskan mengganti permainan menjadi agak defensif untuk menjaga keunggulan ini. Tetapi coba tebak hasilnya? Chelsea membalikkan keadaan dengan skor 6-4. Saya pun kecewa berat. Rasanya saya ingin marah kepada pemainnya, tetapi tentu saja tidak bisa karena tidak ada objek untuk dimarahi. Masa saya mengomeli monitor saya?

Karena ingin mendapat hasil yang lebih baik, saya melakukan sedikit cara curang dengan keluar dari game lalu memulainya kembali, karena kebetulan saya menyimpan (save game) empat hari sebelum pertandingan tersebut. Setelah melakukan pertandingan ulang, hasil yang muncul sangat menarik. Entah kebetulan atau apa, tetapi skor akhir adalah 2-0 untuk Chelsea. Selisih golnya sama dengan pertandingan sebelumnya. Mungkin memang dalam pertandingan kali ini saya ditakdirkan untuk kalah saja.

Lalu niat untuk mengulang pertandingan muncul lagi. Saya pikir, pasti suatu saat tim saya akan menang. Entah bagaimana caranya. Tetapi kemudian terbesit juga niat untuk tetap melanjutkan dan menerima kekalahan itu, karena mungkin saja sepanjang usia tim Bolton tsb akan kalah terus. Sampai akhirnya saya memutuskan keluar dari game dan memilih untuk megedit blog ini saja.

Di tengah kebingungan, saya mencoba memikirkan apa yang dipikirkan oleh Gary Megson (pelatih Bolton yang sebenarnya), bagaimana jika timnya menderita kekalahan telak, atau mungkin kekalahan miris 6-4 seperti tadi. Jelas dia akan kecewa. Tidak hanya kecewa, karir kepelatihannya pun akan terancam seiring dengan kekalahan dan kegagalan yang didapat. Mungkin, Mr. Megson akan menghabiskan waktu semalaman untuk memikirkan taktik yang tepat guna memenangkan timnya. Ia akan berusaha dengan keras untuk memastikan kekalahan itu tidak terjadi lagi, semua kelemahan di pertandingan yang lalu akan diusahakan untuk ditutupi, dan semua kesempatan yang bisa diciptakan akan diusahakan untuk lebih maksimal dan akurat. Kekalahan itu akan menjadi cambuk bagi Mr. Megson untuk lebih berusaha keras, dan akan semakin memperkuat mentalnya dalam menghadapi tekanan.

Sementara bagaimana dengan kita? Tidak ada istilah save game ataupun load game. Hanya ada satu kesempatan bagi kita untuk melakukan perubahan dan perbaikan bagi diri kita sendiri. Kekalahan dan kegagalan pasti terjadi, karena disitulah jalan menuju kemenangan sejati. Masalahnya adalah, maukah kita terus berjalan untuk meraih kemenangan itu? Atau kita lantas akan menyerah dan keluar dari jalan itu? Segera singkirkan pikiran negatif yang sangat menjerumuskan itu. Ingatlah slogan andalan Barrack Hussein Obama Jr dalam kampanyenya:

“Yes, We Can!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar